Sudan Selatan terancam akan mengalami bencana kelaparan

Spread the love

Sudan Selatan dikhawatirkan akan terancam bencana kelaparan lagi

Sudan Selatan yaitu negara termuda didunia yang porak-poranda karena perang saudara, akan tetapi dibalik itu ada ancaman lebih menakutkan.

Diprediksikan sekitaran 1, 25 juta masyarakat setempat terancam kelaparan. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, jumlah itu 2 x lipat mulai sejak tahun kemarin. Bila pemerintah setempat tidak tanggap, jadi mungkin perkiraan itu dapat terjadi.

Menurut koordinator instansi pemantau REACH bila keadaan selalu lebih buruk, bukanlah mustahil akan terjadi bencana kelaparan di negara itu.

Menurutnya, perseteruan berdarah terjadi 5 tahun lamanya telah merenggut sekitaran 50 ribu nyawa yaitu aspek perlu menyeret negara itu kedalam kondisi itu.

Februari lantas Sudan Selatan menyebutkan mereka alami bencana kelaparan. Di dua kabupaten setempat, sekitaran 100 ribu masyarakat telah kepayahan karna tidak memperoleh konsumsi makanan. Mujur keadaan itu cepat di ketahui serta dapat ditanggulangi.

Walau sekian, keadaan ketahanan pangan di Sudan Selatan masih tetap mencemaskan. Paling tidak demikian yang diperlihatkan dalam laporan PBB serta Tubuh Pusat Statistik Sudan Selatan.

Didalam catatan itu terdaftar bila pada September lantas, sekitaran enam juta orang atau 56 % dari populasi mengakui sempat alami kelaparan. Di Kabupaten Ayod serta Baggari Besar, diberitakan 25 ribu orang kesusahan memperoleh makanan.

Dua daerah itu dikuasai pemberontak serta keadaan penduduknya menyedihkan. Jangankan warga yang akan bercocok tanam buat penuhi keperluan perut, pengiriman pertolongan makanan saja susah dikerjakan. Sebab senantiasa dilarang dengan ancaman senjata.

Hal ini terjadi disebabkan pemerintah dan oposisi berbuat curang

Kiriman pertolongan juga dapat dihitung jari, hanya 3x. Warga tidak mengerti dengan sikap pemerintah setempat karna menghambat pengiriman pertolongan.

Bila Sudan Selatan telah mulai masuk musim kemarau, jadi kondisi diprediksikan akan makin lebih buruk. Masyarakat kelaparan di pastikan akan menyerbu rimba lindung serta ambil apa sajakah buat isi perut mereka agar tidak keroncongan. Termasuk juga memakan tumbuhan dipandang beresiko karna beracun.

Baca Juga : Korsel tidak inginkan terjadinya perang dengan rezim Kim Jong-Un

Perwakilan PBB di Sudan Selatan, David Shearer, membenarkan bila ancaman kelaparan di negara itu dipicu oleh perang, bukanlah iklim. Sebab menurutnya, jadi negara ada di lokasi khatulistiwa, curah hujan di sebagian lokasi di Sudan Selatan normal.

Kepala BPS Sudan Selatan, Isaiah Chol Aruai, mengklaim tak ada pembedaan dalam menolong masyarakat terancam kelaparan di negara itu. Tetapi, buktinya pangan digunakan buat merawat pertikaian.

Baik pemerintah serta oposisi keduanya sama menggunakan pangan jadi senjata dalam perang. Dari mulai membatasi masyarakat memperoleh makanan, menghambat pengiriman pertolongan ke daerah spesifik.

Serta dengan terstruktur merampok bahan makanan di toko atau tempat tinggal. Bahkan juga mereka tega merampok warga sipil. Hal semacam ini dungkapkan peneliti Amnesty International di Sudan Selatan, Alicia Luedke.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *