Cia-Cia Suku Sulawesi Yang Menjadi Viral Di Korea

Spread the love

Cia-Cia Suku Sulawesi Yang Menjadi Viral Di Korea

Banyaknya suku dan ragam budaya di Indonesia membuat negara kita menjadi negara besar dan diseganin oleh bangsa lain. Namun pasti tidak ada yang menyangka bahwa salah satu suku di Indonesia Cia-Cia mempunya bahasa yang sama dengan negara lain yaitu Korea.

Suku tersebut mendiami salah satu pulai di Sulawesi Tenggara, pulai ini memiliki keistimewaan dimana mempunyai julukan ‘Kampung Korea’. Desa ini bernama Desa Karya Baru ditempai oleh suku Cia-Cia di Kota Bau-Bau. Desa ini dipenuhi oleh aksara Hangeul yang merupakan salah satu aksara dari bahasa Korea. Tepatnya di Kecamatan Sorawolio, jalan poros dari Kota Bau Bau menuju Kabupaten Buton.

cia-cia

Di desa ini bisa dilihat mulai dari nama jalan, sekolah bahkan disekolah juga dipelajari aksara Hangeul. Dengan populasi 80 ribu orang, Desa Karya Baru ini sangat unik dimana bahasa yang dipakai termasuk dalam anggota keluarga bahasa Austronesia. Bahasa ini masih kerabat dengan bahasa Walio. Di Bau Bau mempunyai bahasa lebih dari 90 bahasa dan salah satunya bahasa Cia-Cia.

Di kampung ini didominasi oleh Suku Laporo dengan bahasa daerah Cia-Cia. Pernah dicoba bahasa Cia-Cia dengan abjad Melayu namun banyak kalimat tidak bisa ditulis. Sedangkan dengan bahasa Arab gundul, arti dan makna akan berbeda apabila ditulis dan diucapkan.

Namun dengan aksara Hangeul Korea semua ucapan bisa ditulis, hingga untuk menghindari kepunahan aksara bahasa Cia-Cia digunakan. Menurut para Tertua Adat Laporo Bugi, Djunudin orang Korea banyak datang melakukan penelitian bahasa Cia-Cia Laporo. Walaupun aksara yang digunakan adalah aksara Korea namun bahasa daerah tetap memakai bahasa asli.

cia-cia

Dengan keunikan daerah dan suku ini membuat perhatian antropolog Korea tertarik untuk melakukan penelitian langsung ke desa tersebut.  Mereka meneliti tentang hubungan dan kekerabatan antara etnis Cia-Cia dengan Korea.

Baca Juga : Pernikahan Tersingkat Yang Pernah Terjadi di Dunia

Hingga kini penduduk suku Cia-Cia bersinar dikarenakan keunikan bahasa dan kebudayaanya dikenal oleh dunia. Negara Korea juga melakukan kerjasama dengan pertukaran guru, pelajar hingga budaya. Penduduk disini juga sudah mempelajari kebudayaan Korea dan tulisannya, menurut mereka tidaklah sukar karena hampir mirip dengan bahasa mereka.

Awal mulanya dilakukan kerjasama ketika Pemkot Bau-Bau dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara ( Manassa ) menggelar Simposium Internasional Penaskahan Nusantara. Seorang Prof. Chun Thay Hyun tertarik dengan keragaman bahasa dan budaya di Pulau Buton khususnya suku Cia-Cia. Kebetulan wilayah ini belum ada memiliki alfabet sendiri. Juga setelah diteliti adanya kesamaan pelafalan serta struktur bahasa dengan Korea.

Upaya pelestarian yang dilakukan oleh Prof Chun Thay Hyun bukan bermaksud untuk melakukan Koreanisasi terhadap kebudayaan Buton. Namun ia ingin mempertahankan bahasa yang ada di Kesultanan Buton dengan menggunakan alfabet Korea. Untuk pemerintah Bau Bau sendiri terobosan ini membuat dan sejumlah masyarakat Cia-Cia berkunjung ke Korea.

Bersama dengan Dosen Seoul National University Lee Ho Nam dan Prof lee Ho Young memulai pelatihan untuk penulisan huruf Hangeul. Hingga kini setidaknya 20 guru SD dan SMP menerima pelatihan tersebut. Beberapa guru juga didatangkan untuk mengajarkan huruf Hangeul dan juga menyusun buku pelajaran bahasa Cia-Cia.

Pemerintahan Korea Selatan juga mengirim bantuan ke sekolah-sekolah berupa uang hingga barang-barang elektronik. Pemda Bau Bau dan Kosel ingin menjadikan daerah ini sebagai ‘Sister City’ nya Korsel. Beberapa wartawan luar dari Korea hingga Jepang datang berkunjung dan meliputin desa ini sehingga Bau Bau dikenal di internasionalcia-cia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *