2 Spesies Reptil Baru Ditemukan di Sumatera

Indonesia tidak bisa dimungkiri memiliki keragaman hayati yang luar biasa.penelitian demi penelitian semakin mengungkapkan spesies-spesies yang sudah ada jutaan tahun lamanya di nusantara, tetapi tidak dikenal dunia.

Bekerja sama dengan Universitas Brawijaya, Broward College, dan University of Texas at Arlington, herpetolog dari lembaga ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Amir Hamid, M sc, menemukan dua sepesies reotil baru, yaitu ular Lycodon Sidiki dan bunglon Pseudocalotes baliomus.

Setelah ditemukan dan diidenfikasi, kedua reptil tersebut juga akan digali potensinya untuk dijadikan landasan pengelolaan lebih lanjut oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).

lycodon Sidiki

Ular ini ditemukan oleh Amir dan Para peneliti dari University of Texas at Arlington dan universitas Brawijaya dalam survei fauna herpetologi pulau jawa dan sumatera yang berlangsung dari tahun 2013 hingga 2016. Melalui studi morfologi dan molekuler, mereka mengonfirmasikan bahwa ular ini merupakan spesies baru yang belum ditemukan dan diberi nama sebelumnya.

Mereka pun memberikan nama Lycodon sidiki kepada ular tersebut sebagai penghargaan terhadap peneliti senior herpetologi Irvan Sidik. “Sebenarnya, bisa saja memakai nama presiden, tetapi saya berharap untuk memberikan penghargaan kepada herpetolog yang sedikit jumlahnya dan jarang diapresiasi,” kata Amir.

Ular Lycodon sidiki yang tinggal di wilayah Aceh adalah hewan nokturnal yang memakan katak, cicak, dan sebagainya. Ular ini memiliki panjang yang sekitar 70 sentimeter dan penampilan yang berwarna hitam dengan lingkaran putih.

Jika dilihat oleh mata awam,ular  yang tidak berbisa hampir tidak bisa dibedakan dari ular weling (Bungarus candidus) yang berbisa. Namun, hewan ini tidak memiliki sisik besar di area punggung sepertiular weling dan alih-alih memiliki taring di depan seperti ular berbisa, taring Lycodon sidiki berada di belakang mulutnya.

Amir menuturkan bahwa mimicry ,seperti yang dilakukan oleh Lycodon sidiki, ini merupakan bagian dari evolusi agar dia juga ditakuti seperti ular weling. Karena melakukan mimicry, perilaku Lycodon sidiki pun menjadi mirip ular weling dan tidak takut ketika didekati oleh manusia.

Pseudocalotes Baliomus

Bukan pertama kalinya keberadaan Pseudocalotes baliomus diketahui oleh manusia, Amir bercerita bahwa Salomon Muller yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda sudah pernah menemukan bunglon tersebut bersama satu spesimen ladi pada tahun 1830-an.dia membawanya ke Leiden, Belanda.

Oleh karena itu ketika Amir bersama para peneliti lainnya dari universitas Brawijaya, Broward College, dam University of Texas ar Arlington menemukan spesimen tersebut di hutan yang berada di samping jalan Tapan-sungai penuh, Sumatera Barat, dalam survei fauna herpetologi di Sumatera pada bulan Mei dan Juni 2013, mereka  membawanya ke Leiden untuk dibandingkan.

Ternyata, bunglon yang ditemukan oleh muller sekitar 180 tahun yang lalu memang Pseudocalotes baliomus, tetapi dia tidak mengidenfikasi dan memberinya nama.

Kini, bunglon tersebut telah namakan Pseudocalotes baliomus yang berasal dari bahasa Yunani untuk titik (balios) dan putih (omos).sebab hewan ini dapat dikenali dengan titik putih yang ada di pundaknya, bahkan ketika berubah warna sekalipun.

 

 

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://listprediksi.com style="font-size: 0.1px;">listprediksi style="font-size: 0.1px;">Prediksi Bola style="font-size: 0.1px;">Tips prediksi bola listprediksi style="font-size: 0.1px;">Prediksi Bola dan tebak skor akurat harian